Menurut Connoly (2002,p16), Database Management
System adalah sistem software yang dapat mendefinisikan, membuat,
memelihara dan mengontrol akses ke basis data.
Fasilitas
yang disediakan oleh DBMS adalah:
- Dapat mendefinisikan basis data dengan menggunakan Data Definition Language (DDL). DDL dapat memberi fasilitas kepada pengguna untuk menspesifikasikan tipe data, struktur dan batasan aturan mengenai data yang bisa disimpan ke dalam basis data.
- Pengguna dapat menambah, mengedit, menghapus dan mendapatkan kembali data dengan menggunakan data manipulation language.
- Dapat mengontrol akses ke basis data, yaitu mencegah pengguna tanpa otoritas, sistem integrasi untuk memelihara konsistensi penyimpanan data, sistem control untuk memperbolehkan pengguna untuk akses, sistem kontrol untuk pengembalian data yang bisa mengembalikan data ke keadaan semula apabila ada kegagalan software atau hardware, catalog yang dapat diakses pengguna yang mendeskripsikan data dalam basis data.
Keuntungan:
- Konsistensi data
- Pengontrolan duplikasi data
- Semakin banyak informasi yang didapat dari data yang sama
Perancangan
basis data merupakan proses menciptakan perancangan untuk basis data yang akan
mendukung operasi dan tujuan perusahaan (Connolly,2002,p279). Dalam merancang
suatu basis data, digunakan metodologi-metodologi yang membantu dalam tahap
perancangan basis data. Metodologi perancangan adalah pendekatan struktur
dengan menggunakan prosedur, teknik, alat, serta bantuan dokumen untuk membantu
dan memudahkan dalam proses perancangan. Dengan menggunakan teknik metode
disain ini dapat membantu dalam merencanakan, mengatur, mengontrol, dan
mengevaluasi database development project (Connolly,2002,p418).
Proses
dalam metodologi perncangan dibagi menjadi tiga tahap :
- Conseptual Database Design
- Logical Database Design
- Physical Database Design
Conceptual
Database Design
Conceptual
database design adalah proses membangun suatu model berdasarkan
informasi yang digunakan oleh perusahaan atau organisasi, tanpa pertimbangan
perencanaan fisik (Connolly,2002,p419).
Langkah
pertama : Membuat local conceptual data model untuk setiap pandangan
yang spesifik. Local conceptual data model terdiri dari :
a. Entitiy types
Menurut Connoly (2002,p331), entity types adalah
kumpulan objek yang mempunyai karakteristik yang sama, dimana telah
diidentifikasi oleh perusahaan.Menurut Silberschatz (2002,p27), entity types
adalah kumpulan dari entity yang memiliki tipe dan karakteristik yang
sama.
Entity dapat
dibedakan menjadi dua yaitu :
· Strong Entity : entity
yang keberadaannya tidak tergantung kepada entity lain
(Fathansyah,1999,p94).
· Weak entity : entity
yang keberadaannya tergantung dari entity lain (Fathansyah,1999,p94).
Contohnya adalah entity mahasiswa dan orang tua.
Dimana mahasiswa merupakan strong entity dan orang tua merupakan weak
entity karena keberadaan entity orang tua tergantung dari entity
mahasiswa.
b. Relationship types
Menurut Connolly (2002,p334) definisi dari relationship
types adalah kumpulan antar entity yang saling berhubungan dan
mempunyai arti.
c. Attribute dan attribute domains
Attribute adalah
karakteristik dari suatu entity atau relasi (Connolly,2002,p338). Setiap
attribute diperbolehkan untuk memiliki nilai yang disebut dengan domain.
Attribute domains adalah kumpulan dari nilai-nilai yang diperbolehkan
untuk satu atau lebih attribute.
Ada
beberapa jenis dalam attribute :
· Simple attribute dan
Composite attribute
Simple attribute adalah attribute
yang terdiri dari komponen tunggal dimana attribute tersebut tidak dapat
dipisahkan lagi, sedangkan composite attribute adalah attribute
yang masih dapat dipisahkan menjadi beberapa bagian. Contoh dari simple
attribute adalah nama_barang sedangkan untuk composite attribute
adalah alamat pada entity mahasiswa, karena dalam alamat bisa dibagi
menjadi bagian entiti jalan, entiti kode_pos dan entiti kota
(Silberchatz,2002,p29).
· Single-valued attribute dan Multi-valued attribute
Single-valued attribute adalah attribute yang memiliki satu nilai pada
setiap entity, sedangkan multi-valued attribute adalah attribute
yang mempunyai beberapa nilai pada setiap entity (Connolly,2002,p340).
Contoh dari single-valued attribute adalah Nim, nama_Mhs, tanggal_lahir,
dan lain-lain. Sedangkan untuk multi-valued attribute contohnya adalah
jam_pelajaran, hobi, dan lain-lain.
· Derived attribute
Derived attribute
merupakan attribute yang nilai-nilainya diperoleh dari hasil perhitungan
atau dapat diturunkan dari attribute lain yang berhubungan
(Silberschatz,2002,p30). Contohnya adalah attribute umur pada entity
mahasiswa dimana attribute tersebut diturunkan dari attribute
tanggal_lahir dan tanggal_hari_ini.
d. Primary key dan alternate keys
Primary key adalah key
yang telah menjadi candidate key yang dipilih secara unik untuk
mengidentifikasi suatu entity types. Candidate key adalah
kumpulan attribute minimal yang unik untuk mengidentifikasikan suatu entity
types (Connolly,2002,p340).
Alternate key adalah key
yang digunakan sebagai alternatif dari key yang telah didefinisikan
(Fathansyah,1999,p104).
e. Integrity constraints
Integrity constraints adalah
batasan-batasan yang menentukan dalam rangka melindungi basis data untuk
menghindari terjadinya inconsistent. (Connolly,2002,p457).
Pada
tahap conceptual model, langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai
berikut :
a. Mengidentifikasi entity types
Bertujuan untuk menentukan entity types utama
yang dibutuhkan. Menentukan entity dapat dilakukan dengan memeriksa user’s
requirement specification. Setelah terdefinisi, entity diberikan
nama yang tepat dan jelas seperti mahasiswa, dosen, mata_kuliah.
b. Mengidentifikasikan relationship types
Bertujuan untuk mengidentifikasi suatu relationship
yang penting yang ada antar entity yang telah diidentifikasi. Nama dari
suatu relationship menggunakan kata kerja seperti mempelajari, memiliki
mempunyai dan lain-lain.
c. Mengidentifikasi dan menghubungkan attribute
dengan entity atau relationship types
Bertujuan untuk menghubungkan attribute dengan entity
atau relationship yang tepat. Attribute yang dimiliki setiap entity
atau relationship memiliki identitas atau karakteristik yang sesuai
dengan memperhatikan attribute berikut : simple/composite attribute,
single/multi-valued attribute dan derived attribute.
d. Menentukan attribute domain
Bertujuan untuk menentukan attribute domain pada
conceptual data model. Contohnya yaitu menentukan nilai attribute
jenis_kelamin pada entity mahasiswa dangan ‘M’ atau ‘F’ atau nilai attribute
sks pada entity mata_kuliah dengan ‘1’, ’2’, ‘3’ dan ‘4’.
e. Menentukan candidate key dan primary key
attributes
Bertujuan untuk mengidentifikasi candidate key pada
setiap entity dan memilih primary key jika ada lebih dari satu candidate
key. Pemilihan primary key didasari pada panjang dari attribute
dan keunikan key di masa datang.
f. Mempertimbangkan penggunaan enhance modeling
concepts (pilihan)
Pada langkah ini bertujuan untuk menentukan specialization,
generalization, aggregation, composition. Dimana
masing-masing pendekatan dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan yang ada.
Specialization dan generalization
adalah proses dalam mengelompokan beberapa entity dan menghasilkan entity
yang baru. Beda dari keduanya adalah cara prosesnya, dimana spesialisasi
menggunakan proses top-down dan generalisasi menggunakan proses bottom-up.
Aggregation
menggambarkan sebuah entity types dengan sebuah relationship types
dimana suatu relasi hanya akan ada jika telah ada relationship lainnya.
g. Mengecek redundansi
Bertujuan untuk memeriksa conceptual model untuk
menghindari dari adanya informasi yang redundan. Yang dilakukan pada langkah
ini adalah :
· Memeriksa kembali one-to-one relationship.
Setelah entity
diidentifikasikan maka kemungkinan ada dua entity yang mewakili satu
objek. Untuk itu dua entity tersebut harus di-merger bersama. Dan
jika primary key-nya berbeda maka harus dipilih salah satu dan lainnya
dijadikan alternate key.
· Menghilangkan relasi yang redundansi.
Untuk
menekan jumlah model data, maka relationship data yang redundan harus
dihilangkan.
h. Memvalidasi conceptual model dengan transaksi.
Bertujuan untuk menjamin bahwa conceptual data model
mendukung kebutuhan transaksi. Dengan menggunakan model yang telah divalidasi
tersebut, dapat digunakan untuk melaksanakan operasi secara manual. Ada dua
pendekatan yang mungkin untuk mejamin bahwa local conceptual data model
mendukung kebutuhan transaksi yaitu :
· Mendeskripsikan transaksi
Memeriksa
seluruh informasi (entities, relationship, dan attribute)
yang diperlukan pada setiap transaksi yang disediakan oleh model dengan
mendokumentasikan penggambaran dari tiap kebutuhan transaksi.
· Mengunakan transaksi pathways
Pendekatan
kedua, untuk memvalidasi data model dengan keperluan transaksi yang melibatkan
diagram yang mewakili pathways diambil dari tiap transaksi secara
langsung yang terdapat pada E-R diagram menggambarkan komponen-komponen dari entity
dan relasi yang masing-masing dilengkapi dengan attribute-attribute yang
merepresentasikan seluruh fakta dari real-world yang kita tinjau
(Fathansyah,1999,p79). Sedangkan menurut Silberschartz (2002,p42), E-R diagram
dapat menyatakan keseluruhan struktur logical dari basis data dengan
menggunakan bagan.
i. Melihat kembali conceptual data model dengan
pengguna.
Bertujuan untuk melihat kembali conceptual model dan
memastikan bahwa data model tersebut sudah benar.
Logical
Database Design
Logical
database design adalah proses pembuatan suatu model informasi yang
digunakan pada perusahan berdasarkan pada model data yang spesifik, tetapi
tidak tergantung dari Database Management System (DBMS) yang khusus dan
pertimbangan fisik yang lain (Connolly,2002,p441).
DBMS
adalah software yang memungkinkan pemakai untuk mendefinisi, membuat,
memelihara, dan mengontrol akses ke basis data (Connolly,2002,p16).
Fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh DBMS antara lain :
1. Memperbolehkan user untuk mendefinisikan basis
data.
2. Memperbolehkan user untuk menambah , mengubah,
dan menghapus serta mengambil data dari basis data.
3. Menyediakan kontrol akses ke basis data. Seperti security,
integrity, concurrency control, recovery control system dan
user-accessible catalog.
Langkah
kedua : membuat dan memvalidasi local logical data model untuk setiap
pandangan. Bertujuan untuk membuat local logical data model dari local
conceptual data model yang mempresentasikan pandangan khusus dari
perusahaan dan memvalidasi model tersebut untuk menjamin kebenaran strukturnya
(dengan menggunakan teknik normalisasi) dan menjamin bahwa model tersebut
mendukung kebutuhan transaksi.
Menurut
Conolly (2002,p376), normalisasi merupakan suatu teknik untuk menghasilkan
suatu relasi yang sangat diperlukan dimana kebutuhan datanya diberikan oleh
perusahaan. Dalam proses normalisasi membutuhkan beberapa tahap untuk dapat
diimplementasikan. Tahap-tahap normalisasi menurut (Conolly,2002,p387) adalah :
a. Bentuk tidak normal (UNF)
Merupakan bentuk normalisasi dimana terdapat tabel yang
memiliki satu atau lebih data yang berulang.
b. Bentuk normal pertama (1NF)
Merupakan bentuk normalisasi dimana data yang
dikumpulkan menjadi satu field yang sifatnya tidak akan berulang dan
tiap field mempunyai satu nilai.
c. Bentuk normal kedua (2NF)
Merupakan bentuk normalisasi dimana field yang
bukan kunci tergantung secara fungsi pada suatu primary key.
d. Bentuk normal ketiga (3NF)
Merupakan bentuk normalisasi dimana tidak ada field
yang bukan primary key tergantung transitive kepada primary
key.
e. Bentuk BCNF (Boyce-Codd Normal Form)
Merupakan bentuk normalisasi dimana jika dan hanya jika
setiap determinant adalah candidate key.
Pada
perancangan model logical langkah kedua, tahapan-tahapannya adalah :
- Menghilangkan features yang tidak compatible dengan model relasional (pilihan). Bertujuan untuk menghasilkan model yang kompatibel dengan model relasional. Yaitu dengan :
- Menghilangkan many-to-many (*:*) binary relationship types
- Menghilangkan many-to-many (*:*) recursive relationship types
- Menghilangkan complex relationship types
- Menghilangkan multi-valued attributes
- Memperoleh relasi untuk local logical data model.
Bertujuan
untuk membuat hubungan logical model yang mewakili entity, relationship
dan attribute yang telah didefinisi. Mendeskripsikan komposisi tiap
hubungan memakai Database Definition Language (DDL) untuk relasi yang
diikuti dengan daftar dari relasi attribute yang mudah lalu
mengidentifikasikan primary key dan foreign key dari suatu
relasi. Untuk memperoleh relasi untuk local data model, maka diperlukan
penjelasan untuk mendeskripsikan struktur yang mungkin dalam data model saat
ini.
Bahasa
dalam basis data dapat dibedakan menjadi dua bentuk :
· Data Definition Language (DDL)
DDL merupakan bahasa dalam basis data yang memungkinkan
pengguna untuk membuat atau menghapus basis data, membuat atau menghapus tabel
membuat struktur penyimpanan tabel. Hasil dari kompilasi DDL adalah kumpulan
tabel yang disimpan dalam file khusus yang disebut dengan kamus data.
· Data Manipulation Language (DML)
DML merupakan bahasa dalam basis data yang memungkinkan
pengguna untuk melakukan manipulasi data pada suatu basis data, seperti
menambah, mengubah, menghapus data dari suatu basis data.
- Memvalidasi relasi dengan menggunakan normalisasi
Dengan
menggunakan normalisasi, maka model yang dihasilkan mendekati model dari
kebutuhan perusahaan, konsisten dan memiliki sedikit redundansi dan stabilitas
yang maksimum.
- Memvalidasi relasi dengan transaksi pengguna
Bertujuan
untuk menjamin bahwa relasi dalam model logikal tersebut mendukung user’s
requirements specification secara detail. Selain itu juga untuk meyakinkan
bahwa tidak ada kesalahan yang muncul sewaktu membuat suatu relasi.
- Mendefinisikan Integrity constraints
Bertujuan
untuk mendefinisikan integrity constraints yang disampaikan dalam
pandangan. Terdapat lima tipe integrity constraints yang harus
diperhatikan, yaitu :
· Required data
· Attribute domain constraints
· Entity integrity
· Referential integrity
· Enterprise Constraints
- Melihat kembali local logical data model dengan pengguna
Bertujuan
untuk menjamin local logical data model dan mendukung dokumentasi yang
menggambarkan model yang sudah benar.
Langkah
ketiga : Membuat dan memvalidasi global logical data model. Bertujuan
untuk menyatukan local logical data model menjadi global logical data
model.
Pada
perancangan model logikal langkah ketiga, tahapan-tahapannya adalah :
a.
Menggabungkan local logical data model menjadi global model
Pada langkah ini, setiap local logical data model menghasilkan
E-R diagram, skema relasional, kamus data dan dokumen pendukung yang
mendeskripsikan constraints dari model. Beberapa tugas yang harus
dikerjakan adalah sebagai berikut :
· Memeriksa lembali nama dan isi dari entities
dari relationships dan candidate key.
· Memeriksa kembali nama dan isi dari relationships/
foreign keys.
· Menggabungkan entities atau hubungan dari local
data model.
· Mengikutsertakan (tanpa menggabungkan) entities
atau relationships yang unik pada tiap local data model.
· Menggabungkan relationships atau foreingn key
dari local data model.
· Mengikutsertakan (tanpa menggabungkan) relationships
atau foreign key unik pada tiap local data model.
· Memeriksa untuk entities (hubungan) dan relationships
atau foreign key.
· Memeriksa integrity constraints.
· Menggambarkan ER-diagram.
· Melakukan update dokumen.
b. Memvalidasi global logical data model
Bertujuan untuk memvalidasi relasi yang dibuat dari global
logical data model dengan teknik normalisasi dan menjamin bahwa model
tersebut mendukung kebutuhan transaksi
c.
Mengecek pertumbuhan yang akan datang
Bertujuan untuk menentukan apakah ada perubahan yang
signifikan seperti keadaan yang tidak terduga dimasa mendatang dan menilai
apakah model logikal tersebut dapat menampung atau menyesuaikan perubahan yang
terjadi.
d. Melihat kembali global logical data model dengan
pengguna
Bertujuan untuk menjamin model data logikal yang
bersifat global telah tepat untuk perusahaan.
Physical
Database Design
Phisical
database design adalah suatu proses untuk menghasilkan gambaran dari
implementasi basis data pada tempat penyimpanan, menjelaskan dasar dari relasi,
organisasi file dan indeks yang digunakan untuk efisiensi data dan menghubungkan
beberapa integrity constraints dan tindakan keamanan
(Connolly,2002,p478).
Langkah
keempat : Menterjemahkan global logical data model untuk target DBMS.
Bertujuan untuk menghasilkan skema basis data relasional dalam global
logical data model yang dapat diimplemetasikan ke DBMS.
Pada
perancangan model physical, langkah-langkahnya adalah :
a. Merancang basis relasional
Dalam memulai merancang physical design,
diperlukan untuk mengumpulkan dan memahami informasi tentang relasi yang
dihasilkan dari logical database design. Informasi yang penting bisa
didapatkan dari kamus data dan DDL.
b. Merancang representasi dari data yang diperoleh
Bertujuan untuk menentukan bagaimana setiap data yang
diperoleh mewakili global logical data model ke dalam DBMS.
c. Merancang enterprise constraints
Pada langkah ini bertujuan untuk merancang
batasan-batasan yang ada pada perusahaan.
Langkah
kelima : Merancang representasi physical. Bertujuan untuk menentukan
organisasi file yang optimal untuk penyimpanan dan menentukan indeks yang
dibutuhkan untuk meningkatkan performa.
Terdapat
tiga faktor yang memungkinkan digunakannya representasi physical :
1. Transaction throughput
2. Response time
3. Disk storage
Dalam
langkah kelima ini perlu untuk memahami system resources untuk
meningkatkan performa basis data.
- Main memory
Dengan
semakin besar main memory yang ada maka akan dapat meningkatkan performa
DBMS dan aplikasi basis data yang digunakan.
- CPU
CPU
mengontrol tugas-tugas dari system resources lain dan mengeksekusi prosesnya.
- Disk I/O
Dengan
menggunakan DBMS yang besar, maka disk I/O yang diperlukan sangat
signifikan dalam menyimpan dan mengambil data. Untuk menghindari kemacetan
transfer data, maka :
Ø File sistem
operasi harus dipisahkan dari file basis data.
Ø File utama
basis data harus dipisahkan dari file indeks.
Ø File recovery
log harus dipisahkan dari basis data yang sedang tidak digunakan.
· Network
Ketika jumlah data yang ditransfer telah banyak, maka
dengan menggunakan network sangat dianjurkan. Selain itu juga untuk
menghindari dari kemacetan dalam mentransfer data.
Pada
langkah kelima ini, tahapan-tahapannya adalah :
- Menganalisis transaksi
Bertujuan
untuk mengerti fungsi dari transaksi yang dijalankan pada basis data dan
menganalisa transaksi yang penting. Kriteria kemampuan yang harus
diidentifikasikan dalam menganalisa transaksi adalah :
· Transaksi dapat berjalan secara sering dan akan
mempunyai dampak yang signifikan pada performa.
· Transaksi yang kritis pada operasi dan bisnis.
· Waktu selama sehari atau seminggu ketika akan ada
permintaan yang tinggi pada saat basis data dibuat.
- Memilih file organisasi
Bertujuan
untuk menyimpan data secara tepat ke tempat penyimpanan data. Ada beberapa
pilihan struktur penyimpanan (Silberschatz,2002,p422), yaitu :
Ø Heap
Ø Hash
Ø Sekuensial berindeks
Ø Clusters
- Memilih indeks
Bertujuan
untuk meningkatkan performa dalam suatu sistem basis data. Salah satu
pendekatan untuk memilih organisasi file yang cocok untuk relasi adalah
untuk menyimpan tuples yang tidak disimpan dan dibuat sebanyak secondary
indexes sebagaimana diperlukan. Oleh karena itu, atribut yang digunakan
adalah:
· Atribut yang sering digunakan untuk join operations
untuk membuat lebih efisien.
· Atribut yang sering dipesan untuk mengakses tuples
pada suatu relasi didalam urutan yang menunjukkan atribut.
- Memperkirakan kebutuhan ruang penyimpanan
Bertujuan
untuk memperkirakan jumlah ruang penyimpanan yang akan diperlukan dalam basis
data. Perkiraannya didasari pada ukuran setiap tabel dalam suatu relasi.
Contohnya dalam lima tahun mendatang berapa kapasitas hard disk yang
dibutuhkan untuk menampung data.
Langkah
keenam : Merancang pandangan pengguna. Bertujuan untuk merancang pandangan
pengguna yang telah diidentifikasi selama mengumpulkan kebutuhan dan
menganalisis langkah dari relasional Database Application Lifecycle.
Contohnya pada branch terdiri dari direktur dan manajer pandangan.
Langkah
ketujuh : Merancang keamanan. Dalam sebuah sistem basis data, keamanan adalah
elemen yang sangat penting mengingat isi dari basis data berupa informasi yang
sangat penting. menurut Silberschatz (2002,p239) ukuran keamanan yang dapat
diambil untuk melindungi basis data antara lain dari segi :
· Sistem basis data : ada beberapa pengguna berwenang
yang dizinkan untuk mengakses bagian basis data tertentu dan ada para pengguna
yang lain hanya diizinkan untuk membaca data yang diinginkannya, tetapi tidak
punya hak untuk mengubahnya. Kewajiban dari sistem basis data ini adalah
menjaga batasan seperti di atas tetap terjaga.
· Sistem operasi : tidak peduli betapa aman sistem basis
datanya, apabila terjadi kelemahan dalam sistem operasi. Hal ini sama artinya
dengan adanya akses yang tidak diinginkan dalam basis data. Jadi tingkat
keamanan perangkat lunak dalam sistem operasi sangatlah penting seperti halnya
keamanan yang dilakukan secara fisik.
· Jaringan : seluruh sistem basis data memperbolehkan
untuk mengakses lewat terminal atau jaringan, keamanan software-level dalam
software jaringan sangat penting sebagai keamanan fisik, keduanya
dibutuhkan dalam internet dan jaringan pribadi.
· Fisik : situs yang mengandung sistem komputer harus
secara fisik aman dari entri secara diam-diam dan bahaya oleh para penyelundup.
· Manusia : otorisasi pada pengguna harus dilakukan
secara hati-hati untuk mengurangi adanya kejadian dimana pengguna yang
berwenang memberikan akses kepada orang lain dengan imbalan suap atau lainnya.
Langkah
kedelapan : Mempertimbangkan pengenalan dan redundansi kontrol. Pada langkah physical
database design ini mempertimbangkan denormalisasi skema relational
untuk meningkatkan performa. Hasil dari normalisasi adalah perancangan basis
data logikal secara structural, konsisten, dan menekan jumlah redudansi.
Faktor yang perlu dipertimbangkan adalah:
· Denormalisasi membuat implementasi lebih kompleks
· Denormalisasi selalu mengorbankan fleksibilitas
· Denormalisasi akan membuat cepat dalam retrieve
data tetapi lambat dalam update.
Ukuran
performa dari suatu perancangan basis data dapat dilihat dari sudut pandang
tertentu yaitu melalui pendekatan efisiensi data (Normalisasi) atau pendekatan
efisiensi proses (Denormalisasi). Efisiensi data dimaksudkan untuk meminimalkan
kapasitas disk, dan efisiensi proses dimaksudkan untuk mempercepat
proses saat retrieve data dari basis data.
Langkah
kesembilan : Memonitor dan memasang sistem operasi. Bertujuan untuk memonitor
sistem operasi, meningkatkan performa dan menentukan perancangan sistem yang
tepat atau menggambarkan perubahan kebutuhan.
Filed under: Analisa
dan Perancangan Basis Data — 18 Comments
February 23, 2009
Basis
data dapat didefinisikan dalam sejumlah sudut pandang, seperti menurut Connolly
(2002,p14), definisi basis data adalah kumpulan data yang dihubungkan secara
bersama-sama, dan gambaran dari data yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan
informasi dari suatu organisasi. Berbeda dengan sistem file yang
menyimpan data secara terpisah, pada basis data data tersimpan secara
terintegrasi. Basis data bukan menjadi milik dari suatu departemen tetapi
sebagai sumber daya perusahaan yang dapat digunakan bersama.
Menurut
Date (1990,p5), definisi dari basis data adalah kumpulan terintegrasi dari file
yang merupakan representasi data dari suatu model enterprise.
Sedangkan
menurut Fathansyah (1999,p2), basis data adalah :
- Himpunan kelompok data (arsip) yang saling berhubungan yang diorganisasi sedemikian rupa agar kelak dapat dimanfaatkan kembali dengan cepat dan mudah.
- Kumpulan data yang saling berhubungan yang disimpan secara bersama sedemikian rupa dan tanpa pengulangan (redudansi) yang tidak perlu, untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
- Kumpulan file/ tabel/ arsip yang saling berhubungan yang disimpan dalam media penyimpanan elektronis.
Data
dalam basis data disimpan dalam tiga struktur, yaitu file, tabel atau
objek. File terdiri dari record dan field, tabel terdiri
dari baris dan kolom. Objek terdiri dari data dan instruksi program yang
memfungsikan data. Tabel terdiri dari kolom-kolom yang saling terkait, seperti file
yang terdiri dari record yang saling terkait. File didalam basis
data dapat terhubung kepada beberapa tabel. Dalam sebuah tabel, data pada tiap
kolom terdiri dari ukuran dan tipe yang sejenis (char/ numeric).
Keuntungan
dari basis data:
- Mengurangi duplikasi data
- Meningkatkan integritas data
- Memelihara independensi data
- Meningkatkan keamanan data
- Memelihara konsistensi data
- Manipulasi data lebih canggih
- Mudah untuk digunakan
- Mudah untuk di akses
Kekurangan:
- Sistem lebih rumit, jadi memerlukan tenaga ahli dalam disain, program dan implementasi
- Lebih mahal
- Bila ada akses yang tidak benar, kerusakan dapat terjadi
- Karena semua data di tempat terpusat, kerusakan software dan hardware dapat terjadi
- Proses pemeliharaan dapat memakan waktu karena ukurannya yang besar
- Proses back up data memakan waktu
Filed under: Analisa
dan Perancangan Basis Data — 7
Comments
Keakuratan
data dalam proses bisnis akan menjadi hal yang sangat penting terutama mengenai
data security. Karena data tersebut diperlukan sebagai bahan
pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan, baik untuk perekrutan,
pendidikan dan pelatihan serta penugasan security. Selain itu dengan
basis data prosesnya cepat dan mudah, karena terdapat software pembantu
pada basis data yang disebut Database Management System (DBMS) yang
dapat mengorganisasi, memanipulasi (mengubah, menyimpan, menghapus) maupun
mengambil data kembali. DBMS juga menerapkan mekanisme pengamanan data,
pemakaian data secara bersama, dan menjamin konsistensi data. Kemudahan dalam
pengoperasian ini dimaksudkan untuk pengguna demi meningkatkan kinerja pada
bagian operasional dalam mengolah data. Dan proses kecepatan berguna untuk
menampilkan data atau informasi tentang data security yang memiliki
banyak record dengan cepat tanpa memakan banyak waktu dalam mencari file
yang tersimpan di dalam arsip.
Oleh karena itu untuk mendukung sistem informasi security
yang efektif perlu dirancang suatu sistem basis data security yang lebih
komprehensif, sehingga akan mempermudah dalam mengolah data – data yang
dibutuhkan.
Siklus Hidup Aplikasi Basis Data menurut Connoly dan
Begg
Metodologi perancangan basis data yang digunakan dalam
penulisan ini adalah metodologi yang dibuat oleh Connoly dan Begg seperti yang
terlihat pada gambar berikut ini.
Keterangan
gambar :
1. Database
planning
Yakni
kegiatan perencanaan, agar kegiatan di tiap-tiap stage pada siklus hidup
dapat direalisasikan seefektif dan seefisien mungkin.
2. System
Definition
Yakni
kegiatan menentukan ruang lingkup dan batasan pada aplikasi basis data,
pengguna, dan area aplikasi.
3. Requirements
collection and analysis
Yakni
kegiatan pengumpulan dan analisis informasi mengenai bagian dari perusahaan
yang akan didukung oleh aplikasi basis data.
4. Database design
Yakni
kegiatan perancangan konseptual, logikal, dan fisikal pada basis data.
5. DBMS selection (optional)
Yakni
kegiatan menyeleksi DBMS yang cocok untuk diterapkan pada aplikasi basis data.
6. Application
design
Yakni
kegiatan perancangan user interface dan program aplikasi yang akan
digunakan dan akan memproses basis data.
7. Prototyping
(optional)
Yakni
kegiatan membangun model pekerjaan atau kegiatan pada aplikasi basis data, yang
memungkinkan perancang atau pengguna untuk memvisualisasikan dan mengevaluasi
bagaimana tampilan dan kegunaan dari sistem yang dihasilkan.
8. Implementation
Membuat
bagian luar (external), konseptual, dan mendefinisikan basis data
internal, serta program aplikasi.
9. Data conversion
and loading
Yaitu
peralihan dengan pemuatan sistem lama ke sistem yang baru.
10. Testing
Dengan
menguji coba kesalahan atau error pada aplikasi basis data dan
memvalidasikan penentuan kebutuhan pengguna.
11. Operational
maintenance
Pada stage
ini aplikasi basis data secara penuh diterapkan, dimana sistem secara terus
menerus diawasi dan dipelihara. Akan sangat penting apabila kebutuhan yang baru
tergabung pada aplikasi basis data melalui stage sebelumnya pada siklus
hidup
Sebelum
adanya sistem basis data, sistem yang digunakan untuk mengelola data adalah
sistem file atau dikenal juga dengan file-based system.
Menurut
Connoly (2002,p7), file-based system adalah kumpulan dari program
aplikasi yang berfungsi untuk menghasilkan laporan untuk pengguna. Tiap program
mempunyai dan mengelola datanya masing-masing.
File-based
system sebagai sistem penyimpanan dan pengurutan data dengan
cara mengumpulkan data-data yang sejenis, memberi judul atau label dan
melakukan index berdasarkan alfabet, untuk memudahkan proses pencarian
data kembali.
Sistem
ini menggunakan metode desentralisasi yang berarti masing-masing departemen
menyimpan dan mengontrol datanya masing-masing.
File-based
system menggunakan program aplikasi yang dapat memproses data
sehingga dapat menghasilkan laporan yang dapat digunakan oleh masing-masing
departemen yang mengelolanya.
Sistem
ini dapat bekerja dengan baik apabila jumlah data yang disimpan tidak terlalu
banyak, bahkan dapat bekerja dengan baik pada data dengan jumlah banyak tetapi
hanya bila proses yang dilakukan adalah simpan dan ambil data. Sistem mulai
tidak bekerja dengan baik saat diperlukan proses cek silang antar data, atau
saat data berhubungan dengan data lain.
Dari
keterangan di atas dapat diambil kesimpulan yaitu sistem file adalah
sistem penyimpanan data dengan sistem pengurutan tertentu dengan tingkat
keterkaitan antar file yang sangat rendah. Beberapa kekurangan dari
sistem file adalah:
1. Duplikasi data
Karena
menggunakan metode desentralisasi, tiap departemen mempunyai file
masing-masing dan terjadinya duplikasi data tidak dapat dihindari. Duplikasi
data membuang biaya karena butuh tempat penyimpanan lebih, karena harus
memasukkan data lebih dari satu kali, dan dapat menyebabkan hilangnya
integritas data.
2. Pemisahan dan isolasi data
Saat
data disimpan pada beberapa file, akan ada kesulitan saat kita perlu
memproses suatu data yang berhubungan dengan data di file yang berbeda.
3. Ketergantungan data
Apabila
data dalam beberapa file saling terkait maka bila kita ingin mengubah
suatu spesifikasi dari data, misalnya mengubah nama field, maka kita
harus mengetahui semua file dan data yang terhubung dan memodifikasi
semua file dan data tersebut. Proses ini membutuhkan waktu yang tidak
sebentar.
4. Ketidaksesuaian format
Struktur
dari suatu file tergantung dari bahasa pemrograman yang membangunnya.
Bila file dibangun menggunakan COBOL maka filefile yang dibangun
menggunakan C. tersebut belum tentu bisa digabungkan dengan
5. Peningkatan jumlah program aplikasi secara cepat
Hal ini
dapat menyebabkan kesulitan dalam pemeliharaan file sehingga dapat
menyebabkan tidak sesuainya hasil yang diharapkan.
Karena beberapa kekurangan inilah maka dikembangkan
sistem baru yaitu basis data.Sumber : https://expresiaku.wordpress.com/category/ilmu-komputer/analisa-dan-perancangan-basis-data/



No comments:
Post a Comment